Kombo Agari – MotoGP kembali mendapat sorotan terkait isu keselamatan pembalap. Kali ini, Pedro Acosta menilai para rider MotoGP terlalu egois untuk membentuk asosiasi pembalap seperti di Formula 1.
Acosta menyampaikan pendapat tersebut setelah banyak pihak mengkritik keputusan MotoGP dalam beberapa pekan terakhir.
“Baca Juga: AFC Tambah Kuota, Indonesia Kirim Dua Wakil Asia“
Keselamatan MotoGP Jadi Sorotan Besar
Kritik terhadap MotoGP muncul setelah pihak penyelenggara memutuskan mengganti Phillip Island Circuit dengan sirkuit jalanan Adelaide untuk GP Australia mulai 2027.
Selain itu, insiden besar pada GP Catalunya juga memicu perdebatan baru.
Pada balapan tersebut, Race Direction memberlakukan dua restart setelah kecelakaan parah yang melibatkan Alex Marquez dan Johann Zarco.
Situasi itu membuat banyak pembalap mempertanyakan standar keselamatan MotoGP musim ini.
Bagnaia Soroti Minimnya Kehadiran Rider
Francesco Bagnaia juga ikut menyampaikan kritik kepada sesama pembalap.
Menurut Bagnaia, banyak rider jarang menghadiri rapat Komite Keselamatan setiap Jumat sore.
Ia menyebut hanya tiga pembalap yang rutin hadir dalam pertemuan tersebut.
Selain dirinya, Luca Marini dan Jack Miller juga aktif mengikuti rapat.
Karena itu, Bagnaia dan Marini mendorong para rider membentuk asosiasi pembalap sendiri.
Mereka ingin pembalap memiliki suara lebih kuat dalam urusan keselamatan.
Acosta Nilai Rapat Tidak Selalu Dibutuhkan
Meski mendukung persatuan pembalap, Acosta merasa rapat mingguan tidak selalu penting.
Ia menilai beberapa masalah tidak bisa selesai hanya melalui pertemuan rutin.
“Saya rasa Anda tidak perlu pergi setiap pekan hanya karena ada gundukan baru di sirkuit,” ujar Acosta kepada Motorsport.com.
Acosta juga menyinggung kecelakaan besar di Catalunya.
Menurutnya, rapat keselamatan tidak akan mampu mencegah semua insiden di lintasan.
Karena itu, ia meminta para rider memahami risiko saat turun balapan.
Acosta Sebut Rider MotoGP Sulit Kompak
Saat membahas kemungkinan pembentukan asosiasi seperti GPDA di Formula 1, Acosta menunjukkan keraguan besar.
Ia menilai setiap pembalap memiliki kepentingan sendiri saat akhir pekan balapan berlangsung.
Menurut Acosta, banyak rider tetap ingin membalap meski situasi berbahaya muncul.
“Selalu ada pembalap yang melihat peluang saat akhir pekan balapan,” kata Acosta.
Ia juga menyebut pembalap MotoGP memiliki sifat sangat kompetitif.
Karena itu, mereka sulit bersatu dalam mengambil keputusan besar.
Semua Rider Tetap Ingin Mengejar Kesempatan
Acosta percaya setiap pembalap selalu mencari peluang mencetak hasil terbaik.
Kondisi tersebut membuat para rider tetap ingin turun balapan meski risiko meningkat.
“Para pembalap cukup egosentris. Semua ingin membuat gebrakan besar,” tutup Acosta.
Pernyataan Acosta menunjukkan bahwa isu keselamatan MotoGP masih menjadi pembahasan panjang musim ini.
“Baca Juga: AFC Tambah Kuota, Indonesia Kirim Dua Wakil Asia“
