Kombo Agari – Josep “Pep” Guardiola mencetak tonggak bersejarah dalam karier manajerialnya. Pelatih asal Spanyol itu baru saja menorehkan laga ke-1000 sebagai manajer profesional.
Momen penting ini terjadi saat Manchester City mengalahkan Liverpool 3–0 pada pekan ke-11 Premier League 2025/2026 di Etihad Stadium.
“Baca Juga: Neville Kritik Wirtz: Mahal tapi Belum Tunjukkan Kualitas“
Kemenangan Spesial di Laga ke-1000
Pep Guardiola merayakan pencapaian luar biasa itu dengan kemenangan besar. Manchester City tampil dominan dan mengandaskan Liverpool tanpa ampun.
Hasil ini menjadi kado manis bagi Guardiola, yang selama hampir dua dekade dikenal sebagai pelatih dengan filosofi permainan modern dan efektif.
Kemenangan atas rival abadi Liverpool menegaskan posisi City sebagai kandidat kuat juara Premier League. Bagi Guardiola, ini bukan hanya sekadar angka, tetapi simbol konsistensi dan dedikasi dalam dunia kepelatihan.
Awal Karier: Perjudian Besar Barcelona
Perjalanan Pep Guardiola sebagai pelatih dimulai pada 2008, ketika Barcelona mengambil keputusan berani.
Manajemen klub menunjuk Pep, yang saat itu hanya melatih tim Barcelona B, sebagai pengganti Frank Rijkaard.
Padahal, saat itu banyak pihak yang lebih mendukung Jose Mourinho untuk menduduki kursi pelatih utama.
Namun, keputusan itu langsung terbayar lunas. Guardiola membawa Barcelona meraih enam trofi dalam satu musim (sextuple) pada 2008/2009.
Prestasi luar biasa itu meliputi gelar La Liga, Liga Champions, Copa del Rey, Piala Super Spanyol, Piala Super Eropa, dan Piala Dunia Antarklub.
Guardiola total mencatat 247 laga bersama Barcelona dan mempersembahkan 14 trofi.
Meski begitu, tekanan tinggi dan persaingan sengit dengan Real Madrid membuatnya lelah secara mental. Ia akhirnya memutuskan hengkang pada 2012.
Era Bayern Munchen: Pembuktian di Jerman
Pada 2013, Guardiola melanjutkan karier ke Jerman dengan melatih Bayern Munchen.
Ia menggantikan Jupp Heynckes yang baru saja membawa Bayern meraih treble winner.
Guardiola membuktikan bahwa dirinya bukan pelatih “satu klub”. Ia langsung membawa Bayern menjuarai tiga gelar Bundesliga secara beruntun.
Meski gagal menjuarai Liga Champions, gaya bermain menyerang dan penguasaan bola tetap menjadi ciri khas timnya.
Selama tiga tahun di Jerman, Pep memimpin 161 pertandingan dengan catatan 121 kemenangan, 21 hasil imbang, dan hanya 19 kekalahan.
Ia mempersembahkan tujuh trofi selama berada di Allianz Arena.
Dinasti Baru di Manchester City
Guardiola bergabung dengan Manchester City pada 2016 dan perlahan membangun dinasti baru di Inggris.
Musim pertamanya berjalan sulit, tetapi sejak 2017 ia menjadikan City sebagai kekuatan dominan Premier League.
Hingga kini, Pep sudah meraih enam gelar Premier League, satu trofi Liga Champions, serta total 18 gelar di semua kompetisi bersama City.
Ia memimpin 550 laga dengan 388 kemenangan dan persentase kemenangan 71%.
Guardiola dikenal mampu memadukan disiplin taktik dan kreativitas pemain. Filosofinya mengubah cara bermain banyak tim di Inggris.
Catatan Luar Biasa dan Perbandingan dengan Sir Alex Ferguson
Selama 1000 laga, Guardiola mencatat rasio kemenangan 71%. Persentase tertingginya tercatat di Bayern Munchen, yaitu 75%.
Raihan ini menempatkannya di antara manajer paling sukses sepanjang sejarah sepak bola.
Beberapa pihak membandingkannya dengan Sir Alex Ferguson.
Ferguson memang memimpin 2155 laga dan meraih 50 trofi, namun Guardiola memiliki efisiensi lebih tinggi.
Pep mencatat rata-rata 2,29 poin per laga di Premier League, lebih tinggi dari Ferguson yang mencatat 2,17 poin per laga.
Kesimpulan: Filosofi, Konsistensi, dan Kejayaan
Dari Barcelona hingga Manchester City, Pep Guardiola selalu menghadirkan kemenangan dan gaya bermain indah.
Ia bukan hanya pelatih sukses, tetapi juga inovator yang mengubah wajah sepak bola modern.
Dengan 40 trofi dan 1000 pertandingan, Guardiola telah menulis bab istimewa dalam sejarah sepak bola dunia — dan kisahnya belum selesai.
“Baca Juga: Laga Arab Saudi vs Mali Jadi Penentu Nasib Indonesia U-17“














